Sabtu, 12 November 2016

Software MANUSIA Berbicara dengan tumbuhan

Nama: Ikhsan H.K

NPM 1B114815

Pengertian Inovasi Sistem Informasi & Teknologi Informasi Modern

Inovasi adalah suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. orang atau wirausahawan yang slalu berinovasi, maka ia sapat dikatakan sebagai seorang wirausahwan yang inovatif. Seseorang yang inovatif akan selalu berupaya melakukan perbaikan, menyajikan sesuatu yang baru/unik yang berbeda dengan yang sudah ada.
Pengertian Inovasi Menurut Para Ahli :
  • Kuniyoshi Urabe Menurut Kuniyoshi Urabe, inovasi merupakan setiap kegiatan yang tidak bisa dihasilkan dengan satu kali pukul, melainkan suatu proses yang panjang dan kumulatif, meliputi banyak proses pengambilan keputusan, mulai dari penemuan gagasan hingga ke implementasian nya di pasar.
  • Van de Ven, Andrew H. Menurut Van de Ven, Andrew H., pengertian inovasi adalah pengembangan dan implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan dengan berbagai aktivitas transaksi di dalam tatanan organisasi tertentu.
  • Everett M. Rogers Menurut Everett M. Rogers, inovasi merupakan sebuah ide, gagasan, ojek, dan praktik yang dilandasi dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau pun kelompok tertentu untuk diaplikasikan atau pun diadopsi.
  • UU No. 19 Tahun 2002 Menurut UU No. 19 Tahun 2002, pengertian inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau pun perekayasaan yang dilakukan dengan tujuan melakukan pengembangan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau pun cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah ada ke dalam produk atau pun proses produksinya.

Teknologi Informasi (TI), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information technology (IT) adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel).

Manfaat Inovasi Sistem Informasi & Teknologi Informasi Modern

  • Manfaat Inovasi Sistem Informasi bagi Perusahaan, untuk sebuah perusahaan, teknologi sangat dibutuh kan apalagi dalam pemrosesan data. Di abad 21 ini sudah 90% perusahaan besar ataupun kecil sudah memasukan teknologi computer dan internet pada setiap kegiatan di perusahaan tersebut, contohnya sebagai transaksi, promo, perhitungan gaji, menemukan partner atau mitra kerja, dll. Setelah masuknya bidang teknologi ke sebuah perusahaan sekarang kita sudah mudah untuk melakukan transaksi jual beli baik itu secara komersil maupun individu.
  • Manfaat Inovasi Sistem Informasi pada SIM (Sistem Informasi Manajemen), dalam SIM itu sendiri banyak yang diuntung kan dari adanya Inovasi Sistem Informasi tersebut. Seperti hal nya dalam meningkatnya kualitas informasi saat di sampaikan, Lebih terjamin kemanannya karena sudah adanya pengecekan kemanan setiap minggu atau bulan ini biasa kita sebut sebagai maintenance, Informasi yang disampaikan bisa dijamin kebenarannya karena informasi yang di sebar luaskan sudah melewati masa pengecekan, bisa meningkatkan pengambilan keputusan atas dasar informasi yang sudah didapat secara ke akuratan kebenarannya, serta lebih efisien bagi setiap pengguna yang akan mencobanya sendiri.

Teknologi Informasi memang sangat membantu untuk memecahkan banyak permasalahan yang sering dihadapi oleh seseorang, terutama yang berkaitan dengan faktor kekurangan seseorang. Seiring dengan majunya teknologi informasi banyak berperan dalam bidang-bidang tertentu.
  • Manfaat Teknologi Informasi Modern di bidang Pendidikan, dalam bidang pendidikan perkembangan teknologi informasi telah membuat hal yang susah dan membosankan menjadi mudah dan menyenangkan. Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”.
  • Manfaat Teknologi Informasi Modern di bidang Pemerintahan, Dalam bidang pemerintahan pada penggunaan teknologi informasi oleh pemerintahan, seperti menggunakan internet, yang pastinya digunakan untuk menghubungkan keperluan penduduk, bisnis, dan kegiatan lainnya. Bisa merupakan suatu proses transaksi bisnis antara pihak yang lain dan pemerintah dengan menggunakan jaringan internet, lebih umum lagi dikenal sebagai world wide web. Pada intinya pemerintah adalah penggunaan teknologi informasi yang sangat penting untuk dapat memantau situasi yang sedang terjadi di masyarakat.
  • Manfaat Teknologi Informasi Modern di bidang Keuangan, Dalam bidang keuangan teknologi informasi merupakan hal yang sangat penting dalam proses transaksi. Saat ini telah banyak khususnya di kota-kota besar yang tidak lagi menggunakan uang untuk pembayarannya, tetapi telah memanfaatkan teknologi itu sendiri.

Contoh Inovasi Sistem Informasi & Teknologi Informasi Modern:

Manusia Bisa Berbicara dengan Tanaman Mengunakan Teknologi ini


teknologi yang mampu “menerjemahkan” tekanan elektrik dan kimia dari tanaman-tanaman agar bisa menjadi sebuah pesan yang dapat dipahami manusia.


akan menciptakan sebuah kapsul dengan sensor khusus yang akan dihubungkan ke komputer. “Kapsul ini bisa menyimpan tanaman. Ketika seseorang ingin berbicara dengan tanaman yang ada di dalam kapsul tersebut, mereka bisa mengetik pesan lewat komputer,

Ia melanjutkan, saat pesan terkirim dari sebuah software komputer ke kapsul, pesan tersebut akan menyampaikan kode khusus ke tanaman yang disimpan. Jika tanaman ingin membalas, kapsul akan mencetak beberapa kalimat yang sudah diproses oleh software komputer.
“Tujuan kami menciptakan teknologi ini sederhana, kami ingin tanaman bisa bercerita kepada pemiliknya atau juga bisa meminta tolong, seperti ingin disiram, kekurangan tanah,” ungkap Steiner.
Steiner juga memaparkan, mereka berencana akan menciptakan mood khusus bagi tanaman. “Ketika pemiliknya bertanya apa yang dirasakan tanaman, mereka bisa membalas sesuai dengan kondisi perasaannya. Kalau kurang disiram, pasti ia akan membalasnya dengan sentimen negatif,” ujar Steiner.
Meski proyek ini masih jauh dari kata ram. Ke depannya, Steiner dan pihak Microsoft akan lebih lanjut mengembangkan Project Florence untuk perawatan tanaman dalam skala besar.

Jumat, 04 November 2016

Tugas Pengantar Teknologi Sistem Cerdasa 3KA25

Nama : Ikhsan Habibilah Karim
NPM : 1B114816
KLS : 3KA25



Sejarah kecerdasan buatan
Di awal abad 20, seorang penemu Spanyol yang bernama Torres Y Quevedo, membuat sebuah mesin yang dapat mengskakmat raja laannya dengan sebuah raja dan ratu.
Perkembangan secara sistematis kemudian dimulai ditemukannya komputer digital.
* Pada tahun 1950-an Alan Turing seorang matematikawan dari Inggris. Pertama kali mengusulkan adanya tes untuk melihat bias tidaknya sebuah mesin dikatakan cerdas(dikenal dengan Turing Test) seolah-olah mesin mampu merespon terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan.
* Istilah kecerdasan buatan dimunculkan pertama kali pada tahun 1956 ketika John Mc Cathy dari Massachusets Institute of Technology (MIT) menciptakan bahasa pemrograman LISP
* Loghic Theorist (1956), diperkenalkan pada Dartmouth Conference, program ini dapat membuktikan teorema-teorema matematika.
* Mesin Neural Network pertama oleh Marvin Minsky (1958)
* Sad Sam, deprogram oleh Robert K. Lindsay (1960), program ini dapat mengetahui kalimat-kalimat sederhana yang ditulis dalam bahasa Inggris dan mampu memberikan jawaban dari fakta-fakta yang didengar dalam sebuah percakapn.
* Muncul logika samar (1965) yang merupakan pelaksanaan konsep samar di atas system komputer. Logika samar mengukur ketidaktepatan dengan cara yang tepat, seperti yang diperlukan mesin.
* ELIZA (1967), diprogram oleh Joseph Weizenbaum, yang mampu melakukan terapi terhadap pasien dengan memberikan beberapa pertanyaan.
* Program Microworld dengan penciptaan proyek SHRDLU (1968) merupakan Expert System yang pertama.
* Pada tahun 1972 bahasa Prolog dimunculkan.
* John Holland (1975) mengatakan bahwa setiap problem berbentuk adaptasi (alami maupun buatan) secara umum dapat diformulasikan dalam terminologi genetika (Algoritma Genetika) .
* Sistem catur AI mengalahkan manusia (Pecatur master) pada tahun 1991.
* Robotik, peranti mekanika yang diprogram untuk melakukan berbagai tugas.


Apa itu Sistem Cerdas ?
Kecerdasan kaitanya sangat erat dengan manusia. Setiap manusia dilahirkan dengan membawa karakter, sifat dasar yang berbeda antara satu dengan yang lain. Begitu pula dengan kecerdasan yang ada di dalam diri manusia, baik kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) maupun kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan merupakan suatu kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh manusia. Kecerdasan merupakan aktivitas otak, dimana otak merupakan salah satu organ yang peranannya sangat penting bagi manusia. Manusia dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik karena manusia mempunyai banyak pengalaman dan pengetahuan. Pengetahuan yang diperolehnya berasal dari rasa ingin tahu sehingga manusia akan terus belajar untuk mendapatkan sebuah pengetahuan. Selain itu manusia dapat melakukan suatu analisa, penalaran, mengambil keputusan sendiri terhadap permasalahan yang muncul dan menarik suatu kesimpulan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Lalu bagaimana dengan mesin ?
Munculnya sistem cerdas diawali dengan keinginan, kemauan manusia untuk membuat suatu sistem berupa mesin atau hardware yang dapat malukan aktivitas seperti manusia. Pada dasarnya sistem cerdas sendiri memiliki kemampuan yang menyerupai bahkan sama dengan pola pikir manusia. Sehingga dapat dikatakan teknologi yang memiliki sistem cerdas dapat mengenali atau melakukan komunikasi layaknya manusia. Sistem cerdas merupakan sistem yang menerapkan “kecerdasan buatan” atau disebut juga “Artificial Intelligence”. Sehingga kecerdasan ini yang diciptakan dan kemudian dimasukkan ke dalam suatu mesin atau hardware. Sistem cerdas dibuat agar dapat berpikir, berperilaku, memiliki perasaan serta mampu mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan pengetahuan yang didapatnya layaknya  manusia.
Dari penjelasan diatas, sistem cerdas dapat diartikan sebuah kecerdasan yang dibuat manusia pada suatu alat atau mesin. Sistem cerdas bukanlah sistem kompleks tetapi sistem cerdas melakukan semua aktivitas yang meniru dinamika logika manusia. Sebuah mesin yang sudah menggunakan sistem cerdas maka diharapkan telah mampu mengambil keputusan secara mandiri. Sistem cerdas adalah mesin yang tertanam dalam komputer memiliki kapasitas tertentu untuk mengumpulkan dan menganalisis data dan berkomunikasi dengan sistem lain.  Menjawab pertanyaan “Apa itu Sistem Cerdas ?” , bahwa sistem cerdas adalah kecerdasan yang diciptakan dan ditanamkan ke dalam suatu mesin (hardware) yang diharapkan dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Jadi membuat suatu sistem yang dapat berpikir, bertindak, menalar, memiliki perasaan layaknya manusia pada umumnya.
Sistem Cerdas sendiri memiliki 3 komponen dasar, diantaranya
  • Artificial Neural Network
Komponen yang pertama yaitu Artificial Neural Network, membahas tentang “bagaimana sel syaraf otak manusia bekerja?”. Artificial Neural Network (ANN) merupakan asitektur dari sel syaraf otak manusia serta simulasi bagaimana sel dyaraf otak bekerja. Artificial Neural Network atau dapat diartikan “Jaringan Syaraf Tiruan” merupakan studi tentang meniru cara kerja sel syaraf otak dimana dapat mengendalikan tindakan, tingkah laku sesuai dengan keadaan lingkungan, menghasilkan suatu respon seperti gerakan tubuh dan mimic wajah.
  • Artificial Intelligence 
Komponen yang kedua yaitu Artificial Intelligence, membahas tentang “bagaimana mesin dapat berpikir, berlogika, bertindak seperti manusia ?”. Artificial Intelligence (AI) merupakan  simulasi, sesuatu yang dimodelkan, mengkonsepkan bagaimana manusia itu berlogika. Artificial Intelligence (AI) atau dapat diartikan “kecerdasan buatan” merupakan studi tentang membuat teknologi dimana dapat melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh manusia dan dapat membantu pekerjaan manusia. Dari berbagai sudut pandang, dari sudut pandang kecerdasan, Artificial Intelligence mampu membuat mesin menjadi cerdas karena dapat melakukan sesuatu seperti yang dilakukan manusia. Sehingga ketika ingin membuat sistem Artificial Intelligence (AI) perlu memikirkan bagaimana kita akan membuat sebuah mesin dengan simulasi dan model layaknya manusia dalam melakukan aktivitas.
  • Logika Fuzzy
Komponen yang ketiga yaitu logika fuzzy, membahas tentang “bagaimana manusia merasa?, bagaimana perasaan manusia bekerja?”. Logika fuzzy disebut logika yang samar (ambigu/ketidakjelasan) atau suatu konsep perasa. Logika yang samar artinya logika yang memiliki sebuah nilai yang tidak hanya bernilai benar atau salah, tetapi dapat bernilai diantara benar dan salah sebagai contoh “sedang”, “cukup” dan sebagainya.. Logika fuzzy digunakan agar mesin diharapkan dapat mempunyai unsur-unsur perasaan seperti manusia sehingga mesin tersebut dapat mempunyai keinginan, serta mengambil keputusan dengan perasaan layaknya manusia.

referensi: 

https://kidodi.wordpress.com/2012/02/19/pengertian-sistem-cerdas/

http://ichroom-septa-fst13.web.unair.ac.id/artikel_detail-159053-Sistem%20Cerdas-Apa%20,%20Kenapa,%20dan%20Bagaimana%20Sistem%20Cerdas%20itu%20ada.html

Kamis, 06 Oktober 2016

Use Case & Class Diagram restoran mellys

Aplikasi Transaksi Pembayaran restoran mellys Di jalan kebon sirih dekat kantor MNC
Use case diagram digunakan untuk memodelkan sistem yang akan kita buat,yang mendeskripsikan fungsi-fungsi apa saja yang ada dalam sistem yang kita buat ini.

Pada use case,ada 3 aktor yang terlibat dalam sistem aplikasi yang saya buat ini.
Yaitu Kasir,Pelayan, dan Customer. Sehingga use case'nya dapat dibuat seperti berikut :

Deskripsi Use Case tersebut adalah :

• Customer datang dan memesan menu kepada Pelayan
• Pelayan mencatat pesanan yang di pesan oleh Customer
• Kemudian pelayan mengantarkan pesanan kepada Customer berdasarkan noMeja
• Setelah selesai makan, Customer datang ke Kasir
• Kasir menghitung total pembayaran yg harus di bayar oleh Customer
• Customer membayar total biayanya (bisa membayar secara tunai ataupun melalui Card)
• Kasir mencetak struk pembayaran dan memberikannya kepada Customer

Kemudian, saya membuat Class Diagram untuk menggambarkan tentang struktur-struktur sistem dari segi pendefinisian kelas-kelas.
Class Diagram ini menunjukkan tentang seperti apa dan bagaimana sistem aplikasi yang akan kita buat.

Setelah membuat Class Diagram,saya lalu membuat lagi tentang Diagram Objek. Diagram Objek adalah diagram yang menggambarkan struktur sistem dari segi penamaan objek kelas itu.
Diagram objek memiliki nama_objek:nama_kelas
seperti Diagram Objek sistem yang saya buat:

Sequence Diagram.
Sequence Diagram yaitu diagram yang menggambarkan kelakuan/perilaku sistem berdasarkan Use Case diagram menurut urutan waktu objek yang sudah saya buat tadi.

-Kasir bisa memilih User Interface mana yang akan dilakukan,yang terdapat dalam menu utama.
-Nah,mula-mula Kasir melakukan Login terlebih dahulu.


 -Jika Kasir melakukan Hitung Pembayaran, ia bisa melakukan pengolahan pemesanan terlebih dahulu yaitu:

Melakukan Insert Pembayaran (memasukkan kode-kode menu yang sudah dipesan oleh Customer,lalu menghitungnya)

 Melakukan Update Pembayaran (jika mengubah data pesanan yang sudah dipesan oleh Customer )


Melakukan Delete Pembayaran (jika menghapus data menu pesanan Customer)





-Jika Kasir melakukan Pembayaran By Card, alurnya adalah :




-Jika Kasir melakukan Cetak Struk, alurnya adalah :

Kesimpulan
Penangkapan kebutuhan pengguna dan penggambaran kerangka sistem yang baik pada keduanya dapat membantu sistem analis maupundeveloper dalam kegiatan pembangunan sistem.Use case dan class diagram adalah salah satu alat bantu dalam perancangan sistem, khususnya aplikasi berbasis OOP.


Senin, 09 Mei 2016

MENGEJAR MIMPI HINGGA EROPA



Nama: Ikhsan Habibilah Karim
NMP: 1B114815
Kls : 2KA25

Sejak di bangku SMA saya punya cita-cita menjadi Duta Besar. Alasan nya sederhana saja; setiap kali membaca koran, saya selalu tertarik membaca berita-berita internasional. Saya sangat ingin tahu apa yang terjadi di luar Indonesia dan mempelajari bagaimana pola pikir orang-orang di luar negeri. Datang dari keluarga menengah, saya tidak berani bermimpi untuk pergi keluar negeri dengan biaya dari orang tua. Sebagai anak SMA, saya berpikir, diplomat merupakan profesi yang memberi kesempatan ke luar negeri dengan dibiayai negara.
Saya mulai berpikir bahwa Jurusan Hubungan Internasional GUNADRAM adalah target saya setelah lulus SMA nanti. Namun, mengejar mimpi benar-benar tidak semanis membayangkannya. Saya paham betul tidak mudah masuk HI GUNADRAM, terutama jika lingkungan belajar di SMA tidak begitu mendukung. Saya masih ingat bagaimana saya selalu sibuk mengerjakan kumpulan soal UM GUNADRAM disaat teman-teman saya bercanda dan bolos kelas. Tidak salah, jika saya terkadang skeptis apakah perjuangan saya membawa hasil. Namun, untuk mencapai sebuah mimpi, saya kira, tidak ada pilihan lain selain bekerja keras. Malam sebelum UM GUNADRAM saya ingat betul bagaimana saya ‘menuntut’ Tuhan untuk mengubah nasib saya karena saya merasa sudah belajar keras. Dan benar saja, Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya. Saya kemudian diterima sebagai mahasiswa HI GUNADRAM.
HI GUNADRAM
Pertanyaan pertama setelah menjadi mahasiswa HI GUNADRAM, what’s next after this? Di awal perkuliahan, saya memang sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan masa studi ini, saya berharap dapat memaksimalkan potensi diri salah satunya dengan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan ikut mendaftar beasiswa luar negeri. Secara akademis, sejak semester satu, saya merasa HI merupakan pilihan yang tepat. Saya sangat menikmati semua topik perkuliahan yang ditawarkan. Para staff pengajar HI GUNADRAM juga sangat inspiratif dalam menyampaikan topik perkuliahan. Saya tidak bisa memungkiri hal inilah yang membuat saya bersemangat kuliah. Saya pikir, ketertarikan terhadap topik perkuliahan merupakan faktor yang esensial bagi seorang mahasiswa. Dengan inilah, mahasiswa bisa bertahan ditengah banyaknya tantangan selama kuliah.
Selama menjadi mahasiswa GUNADRAM, saya aktif di beberapa kegiatan kampus melalui Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), Bulaksumur Pos, Peace Generation – sebuah komunitas perdamaian anak muda. Dengan kegiatan extra kampus dan kewajiban kuliah, manajemen waktu menjadi hal yang sangat penting bagi seorang mahasiswa. Guna mengatur aktifitas inilah, saya selalu menggunakan buku agenda. Ini yang membantu saya tetap fokus dengan apa yang saya kerjakan karena hampir setiap hari saya menuliskan target dan to do list yang harus saya kerjakan. Check list ini membantu juga untuk bekerja secara efektif dan memaksimalkan waktu yang ada setiap hari nya. Tidak itu saja, di awal semester, saya biasanya menuliskan target yang ingin saya capai pada semester tersebut. Target inilah yang menjadi ‘track’ saya. Di akhir semester, saya juga melakukan evaluasi atas proses belajar yang saya lalui. Ini yang mendorong untuk tetap berada pada fokus: lulus tepat waktu dengan hasil yang baik.
Selama kuliah ini, cita-cita saya untuk menjadi Duta Besar mulai berubah arah. Sebagai anak sulung dengan dua adik yang juga duduk di bangku kuliah, saya paham betapa berat nya beban finansial yang harus diemban orang tua. Saya kemudian menjadi sangat realistis untuk segera lulus cepat dan bekerja di Perusahaan Multinasional yang akan menggaji saya besar. Dari titik inilah, saya kemudian membuat rencana untuk memperpendek masa studi. Kebetulan, saya juga sudah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Gempa saat masih semester 4. Inilah yang membuat saya lebih bertekad untuk segera menyelesaikan studi. Konsekuensi dari pilihan ini adalah saya tidak akan mengambil tawaran beasiswa luar negeri yang nantinya dapat memperlama masa studi. Saya hanya fokus menyelesaikan kewajiban belajar yang tersisa. Pada akhir semester 5 saya sudah mulai menyusun proposal skripsi yang diseminarkan di awal semester 6. Di semester ini pula, saya mendapatkan kesempatan mengikuti ‘Summer School Asian Emporiums’ di University of Malaya, Malaysia selama 40 hari. Di program ini, saya belajar mengenai Asia Tenggara dari konteks politik, sosial dan budaya. Tuhan benar-benar memberikan yang terbaik. Keinginan saya untuk bisa belajar di luar negeri kesampaian tanpa harus keluar dari rencana saya untuk lulus cepat. Sepulang dari Malaysia, saya kembali menyelesaikan skripsi dan melakukan pendadaran sesuai dengan rencana. Dengan izin Tuhan saya dinyatakan lulus dengan masa studi 3 tahun 9 hari. Di hari wisuda, saya dinyatakan sebagai lulusan tercepat universitas dan lulusan terbaik Jurusan Ilmu Hubungan Internasional GUNADRAM. Sungguh sebuah hal yang tidak pernah bisa saya bayangkan mengingat betapa dulu keinginan menjadi mahasiswa GUNADRAM saja sudah sebuah mimpi besar.
Secara akademis maupun kegiatan non kampus, saya merasa sangat puas dengan pencapaian ini. Secara pribadi, saya merasa sangat berkembang. Saya belajar bagaimana melakukan manajemen waktu dan bekerja secara efektif dengan hasil maksimal. Saya juga sangat bersyukur, GUNADRAM telah memberikan lingkungan belajar yang sangat kondusif. Belajar dengan orang-orang pintar dari seluruh Indonesia dan dididik oleh dosen-dosen yang berkualitas. Belum lagi, jaringan internasional yang GUNADRAM miliki telah mampu memberi kesempatan bagi mahasiswa nya untuk lebih aktif di level internasional. Kerja keras selama ini benar-benar terbayar ketika saya lulus, GUNADRAM benar-benar memberikan kontribusi bagi pertumbuhan pola pikir dan karakter saya.
Sejak di bangku SMA saya punya cita-cita menjadi Duta Besar. Alasan nya sederhana saja; setiap kali membaca koran, saya selalu tertarik membaca berita-berita internasional. Saya sangat ingin tahu apa yang terjadi di luar Indonesia dan mempelajari bagaimana pola pikir orang-orang di luar negeri. Datang dari keluarga menengah, saya tidak berani bermimpi untuk pergi keluar negeri dengan biaya dari orang tua. Sebagai anak SMA, saya berpikir, diplomat merupakan profesi yang memberi kesempatan ke luar negeri dengan dibiayai negara.
Saya mulai berpikir bahwa Jurusan Hubungan Internasional GUNADRAM adalah target saya setelah lulus SMA nanti. Namun, mengejar mimpi benar-benar tidak semanis membayangkannya. Saya paham betul tidak mudah masuk HI GUNADRAM, terutama jika lingkungan belajar di SMA tidak begitu mendukung. Saya masih ingat bagaimana saya selalu sibuk mengerjakan kumpulan soal UM GUNADRAM disaat teman-teman saya bercanda dan bolos kelas. Tidak salah, jika saya terkadang skeptis apakah perjuangan saya membawa hasil. Namun, untuk mencapai sebuah mimpi, saya kira, tidak ada pilihan lain selain bekerja keras. Malam sebelum UM GUNADRAM saya ingat betul bagaimana saya ‘menuntut’ Tuhan untuk mengubah nasib saya karena saya merasa sudah belajar keras. Dan benar saja, Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya. Saya kemudian diterima sebagai mahasiswa HI GUNADRAM.
HI GUNADRAM
Pertanyaan pertama setelah menjadi mahasiswa HI GUNADRAM, what’s next after this? Di awal perkuliahan, saya memang sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan masa studi ini, saya berharap dapat memaksimalkan potensi diri salah satunya dengan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan ikut mendaftar beasiswa luar negeri. Secara akademis, sejak semester satu, saya merasa HI merupakan pilihan yang tepat. Saya sangat menikmati semua topik perkuliahan yang ditawarkan. Para staff pengajar HI GUNADRAM juga sangat inspiratif dalam menyampaikan topik perkuliahan. Saya tidak bisa memungkiri hal inilah yang membuat saya bersemangat kuliah. Saya pikir, ketertarikan terhadap topik perkuliahan merupakan faktor yang esensial bagi seorang mahasiswa. Dengan inilah, mahasiswa bisa bertahan ditengah banyaknya tantangan selama kuliah.
Selama menjadi mahasiswa GUNADRAM, saya aktif di beberapa kegiatan kampus melalui Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), Bulaksumur Pos, Peace Generation – sebuah komunitas perdamaian anak muda. Dengan kegiatan extra kampus dan kewajiban kuliah, manajemen waktu menjadi hal yang sangat penting bagi seorang mahasiswa. Guna mengatur aktifitas inilah, saya selalu menggunakan buku agenda. Ini yang membantu saya tetap fokus dengan apa yang saya kerjakan karena hampir setiap hari saya menuliskan target dan to do list yang harus saya kerjakan. Check list ini membantu juga untuk bekerja secara efektif dan memaksimalkan waktu yang ada setiap hari nya. Tidak itu saja, di awal semester, saya biasanya menuliskan target yang ingin saya capai pada semester tersebut. Target inilah yang menjadi ‘track’ saya. Di akhir semester, saya juga melakukan evaluasi atas proses belajar yang saya lalui. Ini yang mendorong untuk tetap berada pada fokus: lulus tepat waktu dengan hasil yang baik.
Selama kuliah ini, cita-cita saya untuk menjadi Duta Besar mulai berubah arah. Sebagai anak sulung dengan dua adik yang juga duduk di bangku kuliah, saya paham betapa berat nya beban finansial yang harus diemban orang tua. Saya kemudian menjadi sangat realistis untuk segera lulus cepat dan bekerja di Perusahaan Multinasional yang akan menggaji saya besar. Dari titik inilah, saya kemudian membuat rencana untuk memperpendek masa studi. Kebetulan, saya juga sudah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Gempa saat masih semester 4. Inilah yang membuat saya lebih bertekad untuk segera menyelesaikan studi. Konsekuensi dari pilihan ini adalah saya tidak akan mengambil tawaran beasiswa luar negeri yang nantinya dapat memperlama masa studi. Saya hanya fokus menyelesaikan kewajiban belajar yang tersisa. Pada akhir semester 5 saya sudah mulai menyusun proposal skripsi yang diseminarkan di awal semester 6. Di semester ini pula, saya mendapatkan kesempatan mengikuti ‘Summer School Asian Emporiums’ di University of Malaya, Malaysia selama 40 hari. Di program ini, saya belajar mengenai Asia Tenggara dari konteks politik, sosial dan budaya. Tuhan benar-benar memberikan yang terbaik. Keinginan saya untuk bisa belajar di luar negeri kesampaian tanpa harus keluar dari rencana saya untuk lulus cepat. Sepulang dari Malaysia, saya kembali menyelesaikan skripsi dan melakukan pendadaran sesuai dengan rencana. Dengan izin Tuhan saya dinyatakan lulus dengan masa studi 3 tahun 9 hari. Di hari wisuda, saya dinyatakan sebagai lulusan tercepat universitas dan lulusan terbaik Jurusan Ilmu Hubungan Internasional GUNADRAM. Sungguh sebuah hal yang tidak pernah bisa saya bayangkan mengingat betapa dulu keinginan menjadi mahasiswa GUNADRAM saja sudah sebuah mimpi besar.
Secara akademis maupun kegiatan non kampus, saya merasa sangat puas dengan pencapaian ini. Secara pribadi, saya merasa sangat berkembang. Saya belajar bagaimana melakukan manajemen waktu dan bekerja secara efektif dengan hasil maksimal. Saya juga sangat bersyukur, GUNADRAM telah memberikan lingkungan belajar yang sangat kondusif. Belajar dengan orang-orang pintar dari seluruh Indonesia dan dididik oleh dosen-dosen yang berkualitas. Belum lagi, jaringan internasional yang GUNADRAM miliki telah mampu memberi kesempatan bagi mahasiswa nya untuk lebih aktif di level internasional. Kerja keras selama ini benar-benar terbayar ketika saya lulus, GUNADRAM benar-benar memberikan kontribusi bagi pertumbuhan pola pikir dan karakter saya.

Jumat, 22 April 2016

Tugas 2 Etika & Profesionalisme TSI Semester ATA 2015/2016 Kelas 4KA24


1.     Jelaskan tentang fungsi regulasi/aturan yang digunakan dalam teknologi sistem informasi !
Jawab :
Fungsi regulasi/aturan yang digunakan dalam teknologi system informasi adalah salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi system infromasi. Tidak hanya sekadar membuat regulasi/aturan, namun juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja yang berhak mengeluarkan aturan dan memberikan sanksi terhadap pelanggaran adalah pemerintah dan aparat penegak hukum. Ada beberapa peraturan yang terkait dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia, seperti:
·       Undang-undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
·       UU Informasi dan Elektronik (ITE)
·       Undang-undang Pornografi (UP)

2.     Berikan contoh dan jelaskan salah satu kasus berkaitan dengan regulasi/aturan yang digunakan dalam teknologi informasi !
Jawab :
Contoh Kasus :  Peretasan Website milik Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII) oleh oknum tidak bertanggungjawab.
Penjelasan : Regulasi/Aturan yang digunakan untuk kasus :  Peretasan Website milik Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII) yaitu Pasal 30 Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

                                 3. Apa yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan regulasi/aturan tersebut, jelaskan!
Jawab :
Karena ada rasa keingintahuan untuk mencoba untuk menyimpang dari regulasi/aturan yang ada. Seperti halnya peretas sistem mencoba untuk memasuki dan memodifikasi sistem yang terlarang untuk diakses tanpa izin.


4.    Apa yang harus dilakukan untuk pengguna maupun pembuat aplikasi dalam teknologi informasi untuk mematuhi regulasi/aturan yang sudah ditetapkan !
Dibuatkan kode etik untuk pengguna maupun pembuat aplikasi. Berikut adalah contoh kode etik untuk pembuat aplikasi :
§  Seorang pembuat aplikasi tidak boleh membuat atau mendistribusikan Malware.
§  Seorang pembuat aplikasi tidak boleh menulis kode yang sulit diikuti dengan sengaja.
§  Seorang pembuat aplikasi tidak boleh menulis dokumentasi yang dengan sengaja untuk membingungkan atau tidak akurat.
§  Seorang pembuat aplikasi tidak boleh menggunakan ulang kode dengan hak cipta kecuali telah membeli atau telah meminta izin.
§  Tidak boleh mencari keuntungan tambahan dari proyek yang didanai oleh pihak kedua tanpa izin.
§  Tidak boleh mencuri software khususnya development tools.
§  Tidak boleh menerima dana tambahan dari berbagai pihak eksternal dalam suatu proyek secara bersamaan kecuali mendapatkan izin.
§  Tidak boleh menulis kode yang dengan sengaja menjatuhkan kode pembuat aplikasi lain untuk mengambil keuntungan dalam menaikkan status.
§  Tidak boleh membeberkan data-data penting karyawan dalam perusahaan. Tidak boleh memberitahu masalah keuangan pada pekerja dalam pengembangan suatu proyek.

Untuk pengguna aplikasi :
·       Menghindari dan tidak mempublikasi informasi yang secara langsung berkaitan dengan masalah pornografi dan nudisme dalam segala bentuk.
·       Menghindari dan tidak mempublikasi informasi yang memiliki tendensi menyinggung secara langsung dan negatif masalah suku, agama dan ras (SARA), termasuk didalamnya usaha penghinaan, pelecehan, pendiskreditan, penyiksaan serta segala bentuk pelanggaran hak atas perseorangan, kelompok/ lembaga/ institusi lain.
·       Menghindari dan tidak mempublikasikan informasi yang berisi instruksi untuk melakukan perbuatan melawan hukum (illegal) positif di Indonesia dan ketentuan internasional umumnya.
·       Tidak menampilkan segala bentuk eksploitasi terhadap anak-anak dibawah umur.
·       Tidak mempergunakan, mempublikasikan dan atau saling bertukar materi dan informasi yang memiliki korelasi terhadap kegiatan pirating, hacking dan cracking.
·       Bila mempergunakan script, program, tulisan, gambar / foto, animasi, suara atau bentuk materi dan informasi lainnya yang bukan hasil karya sendiri harus mencantumkan identitas sumber dan pemilik hak cipta bila ada dan bersedia untuk melakukan pencabutan bila ada yang mengajukan keberatan serta bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.

Frame Work : Program Total Quality Management (TQM) - Definisi, Unsur, Prinsip, Manfaat.

Nama : Ikhsan Habibilah Karim
NPM : 1B114815
KLS : 2KA25


1.      Definisi TQM
Mendefinisikan mutu / kualitas memerlukan pandangan yang komprehensif. Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yakni;[2]
1)  Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
2)  Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
3)  Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain).
4)  Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Mutu terpadu atau disebut juga Total Quality Management (TQM) dapat didefinisikan dari tiga kata yang dimilikinya yaitu: Total (keseluruhan), Quality (kualitas, derajat/tingkat keunggulan barang atau jasa), Management (tindakan, seni, cara menghendel, pengendalian, pengarahan). Dari ketiga kata yang dimilikinya, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995)[3]
Seperti halnya kualitas, Total Quality Management dapat diartikan sebagai berikut;
1)      Perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian serta kepuasan pelanggan (Ishikawa, 1993, p.135).
2)      Sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p.33).
3)      Suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.[4]
Pengertian lain dikemukakan oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. mengatakan bahwa Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya.
2.      Unsur-unsur utama TQM
a)     Fokus pada pelanggan.
b)     Obsesi terhadap kualitas.
c)     Pendekatan ilmiah.
d)     Komitmen jangka panjang.
e)     Kerja sama tim.
f)      Perbaikan sistem secara berkesinambungan.
g)     Pendidikan dan pelatihan.
h)     Kebebasan yang terkendali.
i)      Kesatuan tujuan.
j)      Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.[5]
3.      Prinsip-prinsip TQM
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan prinsip-prinsip TQM. Salah satunya adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa program TQM harus mempunyai empat prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a)      Program TQM harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan produk.
b)      Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.
c)      Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan.
d)     Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip, kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.
Lebih lanjut Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.
Lima Pilar TQM : 1)      Produk
2)      Proses
3)      Organisasi
4)      Pemimpin
5)      Komitmen
Produk adalah titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam produk tidak mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak mungkin ada tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang lain, dan kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain juga lemah.[6]
Pendapat lain dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan Christopher, 1993: 165-166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. dalam bukkunya yang berjudul Manjemen Mutu Terpadu, mengatakan bahwa TQM merupakan suatu konsep yang berupaya, melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu, diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi. ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu :
1)      Kepuasan pelanggan.
2)      Respek terhadap setiap orang.
3)      Manajemen berdasarkan fakta.
4)      Perbaikan berkesinambungan.[7]
4.      Manfaat Program TQM
TQM sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun bagi staf organisasi.
–          Manfaat TQM bagi pelanggan adalah:
1)      Sedikit atau bahkan tidak memiliki masalah dengan produk atau pelayanan.
2)      Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih diperhatikan.
3)      Kepuasan pelanggan terjamin.
–          Manfaat TQM bagi institusi adalah:
1)      Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan
2)      Staf lebih termotivasi
3)      Produktifitas meningkat
4)      Biaya turun
5)      Produk cacat berkurang
6)      Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.
–          Manfaat TQM bagi staf Organisasi adalah:
1)      Pemberdayaan
2)      Lebih terlatih dan berkemampuan
3)      Lebih dihargai dan diakui
–          Manfaat lain dari implementasi TQM yang mungkin dapat dirasakan oleh institusi di masa yang akan datang adalah:
1)      Membuat institusi sebagai pemimpin (leader) dan bukan hanya sekedar pengikut (follower)
2)      Membantu terciptanya tim work
3)      Membuat institusi lebih sensitif terhadap kebutuhan pelanggan
4)      Membuat institusi siap dan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan
5)      Hubungan antara staf departemen yang berbeda lebih mudah
Persyaratan Implementasi TQM
Agar implementasi program TQM berjalan sesuai dengan yang diharapkan diperlukan persyaratan sebagai berikut:
1)      Komitmen yang tinggi (dukungan penuh) dari menejemen puncak.
2)      Mengalokasikan waktu secara penuh untuk program TQM
3)      Menyiapkan dana dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas
4)      Memilih koordinator (fasilitator) program TQM
5)      Melakukan banchmarking pada perusahaan lain yang menerapkan TQM
6)      Merumuskan nilai (value), visi (vision) dan misi (mission)
7)      Mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai bentuk hambatan
8)      Merencanakan mutasi program TQM.[8]
B.     TQM dalam Pendidikan
Manajemen Mutu Terpadu yang diterjemahkan dari Total Quality Management (TQM) atau disebut pula Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah suatu pendekatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait. M. Jusuf Hanafiah, dkk (1994:4) mendefinisikan Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis dalam menyelenggarakan suatu organisasi, yang mengutamakan kepentingan pelanggan. pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu. Sedang yang dimaksud dengan Pengeloaan Mutu Total (PMT) Pendidikan tinggi (bisa pula sekolah) adalah cara mengelola lembaga pendidikan berdasarkan filosofi bahwa meningkatkan mutu harus diadakan dan dilakukan oleh semua unsur lembaga sejak dini secara terpadu berkesinambungan sehingga pendidikan sebagai jasa yang berupa proses pembudayaan sesuai dengan dan bahkan melebihi kebutuhan para pelanggan baik masa kini maupun yang akan datang.
Dalam MMT sekolah dipahami sebagai Unit Layanan Jasa,  yakni pelayanan pembelajaran. Sebagai unit layanan jasa, maka yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah ) adalah: 1) Pelanggan internal : guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi, 2) Pelanggan eksternal terdiri atas : pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orang tua, pemerintah dan masyarakat), pelanggan tertier (pemakai/penerima lulusan baik diperguruan tinggi maupun dunia usaha).[9]
Karakteristik Sekolah Bermutu Terpadu[10]
C.    Pengertian, Karakteristik, Dimensi Jasa Pendidikan[11]
1.      Pengertian Jasa Pendidikan
Jasa adalah meliputi segenap kegiatan ekonomi yang menghasilkan output (keluaran) berupa produk atau konstruksi (hasil karya) nonfisik, yang lazimnya dikonsumsi pada saat diproduksi dan memberi nilai tambah pada bentuk (form) seperti kepraktisan, kecocokan/kepantasan, kenyamanan, dan kesehatan, yang pada initnya menarik cita rasa pada pembeli pertama.
Sementara itu, jasa pendidikan merupakan jasa yang bersifat kompleks karena bersifat padat karya dan padat modal. Artinya, dubutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki skill khussu dalam bidang pendidikan dan padat modal karena membutuhkan infrastruktur (peralatan) yang lengkap.
2.      Karakteristik Jasa Pendidikan
a.       Tidak Berwujud (Intangibility)
Jasa tidak berwujud seperti produk fisik, yang menyebabkan pengguna jasa pendidikan tidak dapat melihat, mencium, meraba, mendengar, dan merasakan hasilnya sebelum mereka mengkonsumsinya (menjadi subsistem lembaga pendidikan). untuk menekan ketidak pastina, pengguna jasa pendidikan akan mencari tanda atau informasi tentan kualitas jasa tersebut. Tanda maupun informasi dapat diperoleh atas dasar letak lokasi lembaga pendidikan, lembaga pendidikan penyelenggara, peralatan dan alat komunkasi yang digunakan. Beberapa hal yang akan dilakukan lembaga pendidikan untuk meningkatkan calon pengguna jasa pendidikan adalah :
1.      Meningkatkan visualisasi jasa yang tidak berwujud menjadi berwujud
2.      Menekankan pada manfaat yang akan diperoleh (lulusan lembaga pendidikan)
3.      Menciptakan atau membangun suatu nama merek lembaga pendidikan (education brand name);
4.      Memakai nama seseorang yang sudah dikenal unuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
b.      Tidak Terpisahkan (Inseparability)
Jasa pendidikan tidak dapat terpisahkan dari sumbernya, yaitu lembaga pendidikan yang menyediakan jasa tersebut. Artinya, jasa pendidikan dihasilkan dan dikonsumsi secara serempak (simultan) pada waktu yang sama. Jika peserta didik membeli jasa maka akan berhadapan langsung dengan penyedia jasa pendidikan. Dengan demikian, jasa lebih diutamakan penjualannya secara langsung dengan skala operasi yang terbatas. Oleh Karen itu, lembaga pendidikan dapat menggunakan strategi bekerja dalam kelompok yang lebih besar, bekerja lebih cepat, atau melatih para penyaji jasa agar mereka mampu membina kepercayaan pelanggannya (peserta didik).
c.       Bervariasi (Variability)
Jasa pendidikan yang diberikan seringkali berubah-ubah. Hal ini akan sangat tergantung kepada siapa yang menyajikannya, kapan, serta di mana disajikan jasa pendidikan tersebut. Oleh Karen itu, jasa pendidikan sulit untuk mencapai kualitas yang sesuai dengan standar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, lembaga pendidikan dapat melakukan beberapa strategi dalam mengendalikan kualitas jasa yang dihasilkan dengan cara berikut. Pertama, melakukan seleksi dan mengadakan pelatihan untuk mendapatkan SDM jasa pendidikan yang lebh baik. Kedua, membuat standarrisasi proses kerja dalam menghasikan jasa pendidikan dengan baik. Ketiga, selalu memonitor kepuasan peserta didik melalui sistem kotak saran, keluhan, maupun survey pasar.
d.      Mudah Musnah (perihability)
Jasa pendidikan tidak dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu atau jasa pendidikan tersebut mudah musnah sehingga tidak dapat dijual pada waktu mendatang. Karakteristik jasa yang cepat musnah bukanlah suatu masalah jika permintaan akan jasa tersebut stabil karena jasa pendidikan mudah dalam persiapan pelayanannya. Jika permintaannya berfluktuasi, lembaga pendidikan akan menghadapai masalh dalam mempersiapkan pelayananya. Untuk itu, diperlukan program pemasaran jasa yang sangan cermat agar permintaan terhadap jasa pendidkan selalu stabil.
3.      Dimensi Kualitas Pelayanan pada Jasa Pendidikan
Kualitas jasa pendidikan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas pelayanan yang diperoleh atau diterima secara nyata oleh mereka dengan pelayanan yang sesungguhnya diharapkan. Jika kenyataan lebih dari yang diharrpkan, pelayanan dapat dikatakan bermutu. Sebaliknya jika kenyataan kurang dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan tidak bermutu Namun apabila kenyataan sama dengan harapan, maka kualitas pelayanan disebut memuaskan. Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang diterima mereka, dimensi jasa pendidikan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a)      Bukti Fisik (tangible)
Bukti fisik berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan  yang tercantum dalam pasal  Pasal 42 bab VII Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan yang berisi sebagai berikut :
(1)   Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
(2)   Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.[12]
b)        Keandalan (reliability)
Yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera atau cepat, akurat, dan memuaskan.
c)      Daya Tanggap (responsiveness)
Yaitu kemauan/kesediaan para staff untuk membantu para peserta didik dan memberikan pelayanan cepat tanggap.
d)     Jaminan (assurance)
Yaitu mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, respek terhadap peserta didik, serta memiliki sifat dapat dipercaya, bebas dari bahaya dan keragu-raguan. Sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, yang berisi :
(1)   Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[13]
e)      Empati (empathy)
Yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi dengan baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan peserta didiknya.
Dimensi kualitas pelayanan yang mempengarui harapan dan kenyataan
Menurut Maxwell ada enam dimensi kualitas jasa pendidikan.
1.      Akses yang berhubungan dengan kemudahan mendapatkan jasa pendidikan yang diperoleh di tempat yang mudah dijangkau pada waktu yang tepat dan nyaman.
2.      Kecocokan dengan timgkat kebutuhan pelanggan, yaitu kecocokan akan profil tingkat pendidikan populasi dan kelompok yang membutuhkannya.
3.      Efektivitas yang berhubungan dengan adanya kemampuan penyaji jasa pendidikan (staf pengajar) untuk melayani atau menciptakan hasil yang diinginkan.
4.      Ekuitas yang berhubungan dengan distribusi sumber-sumber pelayanan lembaga pendidikan yang adil dalam suatu sistem yang didukung secara umum.
5.      Diterima secara social yang berhubungan dengan kondisi lingkungan, komunikasi dan kebebasan, atau keleluasaan pribadi.
6.      Efesiensi dan ekonomis yang mengacu kepada pengertian layanan terbaik untuk besarnya biaya yang tepat.
Dalam MMT (Manajemen Mutu Terpadu) keberhasilan sekolah diukur dari tingkat kepuasan pelanggan, baik internal maupun eksternal. Sekolah dikatakan berhasil jika mampu memberikan pelayanan sama atau melebihi harapan pelanggan. Dilihat jenis pelanggannya, maka sekolah dikatakan berhasil jika :
1.       Siswa puas dengan layanan sekolah, antara lain puas dengan pelajaran yang diterima, puas dengan perlakuan oleh guru maupun pimpinan, puas dengan fasilitas yang disediakan sekolah. Pendek kata, siswa menikmati situasi sekolah.
2.       Orang tua siswa puas dengan layanan terhadap anaknya maupun layanan kepada orang tua, misalnya puas karena menerima laporan periodik tentang perkembangan siswa maupun program-program sekolah.
3.       Pihak pemakai/penerima lulusan (perguruan tinggi, industri, masyarakat) puas karena menerima lulusan dengan kualitas sesuai harapan.
4.       Guru dan karyawan puas dengan pelayanan sekolah, misalnya pembagian kerja, hubungan antarguru/karyawan/pimpinan, gaji/honorarium, dan sebagainya. (Panduan Manajemen Sekolah, 2000:193).[14]
D.    Pendekatan Kualitas Layanan Jasa Pendidikan[15]
Mengevaluasi kualitas layanan jasa pendidikan diperlukan pendekatan yang komperhensif karena jasa pendidikan merupaka jasa yang memiliki karakteristik cukup kompleks dibandingkan jasa lainnya. Karena jasa pendidikan padat modal, investasi bidang pendidikan yang berkualitas dan memiliki value dari pengguna jasa pendidikan. Saat ini memerlukan modal yang sangat besar di samping padat karya (memerlukan tenaga SDM) yang memiliki dedikasi, kapabilitas, maupun skill yang spesifik.
Terdapat dua pendekatan untuk memberikan pelayanan yang bermutu kepada pengguna jasa pendidikan, yaitu sebagai berikut.
1.      Pendekatan Segitiga Layanan (triangle Service)
Merupakan suatu model interaktif manajemen layanan yang mencerminkan hubungan antara lembaga pendidikan dengan para pengguna jasa pendidikan (siswa/mahasiswa). Model tersebut terdiri dari 3 elemen, yaitu :
a)      Strategi Layanan (Service Layanan)
Suatu strategi untuk memberikan layanan dengan mutu yang sebaik-baiknya kepada para pengguna jasa. Strategi layanan yang efektif harus didasari oleh konsep atau misi yang dapat dengan mudah dimengerti oleh seluruh individu dalam lembaga pendidikan.
b)     Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan (people)
Dalam hal ini ada tiga kelompok SDM yang memberikan layanan, yaitu SDM kelompok pertama adalah staf pengajar (guru, dosen) yang berhadapan secara langsung dengan pelanggan dalam proses pembelajaran. Kelompok SDM kedua adalah mereka yang menyiapkan sarana proses pembelajaran (alat untuk mempelancar proses pembelajaran) dan kelompok SDM ketiga adalah penjaga keamanan sekolah. Tergolong dalam kelompok manapun, SDM tetap diperlukan untuk memusatkan perhatian pada para pelanggan dengan cara mengetahui siapa pelanggan lembaga pendidikan tersebut, apa saja kebuthan para pelanggan, dan mencari tahu bagaimana cara memenuhi/memuaskan kebutuhannya.
c)      Sistem Layanan (service system)
Prosedur atau tata cara untuk memberikan layanan kepada para pelanggan yang melibatkan seluruh fasilitas fisik yang dimiliki dan sumber daya manusia yang ada. Sistem ini harus layanan yang efektif adalah kemudahan untuk memberikan layanan dengan sistem yang hampir tidak kelihatan oleh pelanggan.
2.      Pendekatan Total Quality Service (TQS)
Total quality service atau layanan mutu terpadu adalah suatu keadaan ketika sebuah lembaga pendidikan memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan bermutu kepada para pelanggan maupun pemilik lembaga pendidikan (pemerintah atau yayasan) san pegawainya. TQS ini memiliki 5 elemen yang saling terkait satu sama lain, yaitu :
a)      Riset Pasar dan Pelanggan (market and customer research)
Riset pasar adalah kegiatan penelitian terhadap struktur dan dinamika pasar tempat lembaga pendidikan berada yang meliputi identifikasi segmen pasar, analisis demografis, dan analisis kekuatan yang ada di dalam pasar itu sendiri.
b)      Perumusan Strategi (strategy formulation)
Suatu proses perancangan strategi untuk mempertahankan pelanggan yang ada dan meraih pelanggan baru.
c)      Pendidikan, Pelatihan, dan Komunikasi (education, traning and communication)
Pendidikan dan pelatihan sangat penting dalam pengembangan dan peningkatan mutu layanan (pengetahuan dan kemampuan) sumber daya manusia agar mereka mampu memberikan layanan yang bermutu kepada para pelanggannya. Adapun komunikasi berperan dalam mendistribusikan informasi kepada setiap individu yang terlibat dalam lembaga pendidikan.
d)     Penyempurnaan Proses (process improvement)
Penyempurnaan proses merupakan berbagai usaha di setiap hierarki manajemen pendidikan untuk secara berkesinambungan menyempurnakan proses pemberi layanan dan secara aktif memberikan cara baru dalam memperbaiki layanan.
e)      Penilaian, Pengukuran, dan Umpan balik (assessment, measurement, and feedback)
Penilaian, pengukuran, dan umpan balik berperan dalam menginformasikan kepada penyaji jasa pendidikan seberapa jauh mereka mampu memenuhi keinginan dan harapan pelanggannya. Hasil penilaian kinerja dan umpan balik dapat dijadikan dasar untuk memberikan balas jasa kepada merka, serta memberikan isyarat kepada lembaga pendidikan tentang apa yang masih harus diperbaiki, kapan diperbaiki, dan bagaimana cara memperbaikinya.
Sumber: Karl Albrecht & Ron Zemke (1990)
Total Quality Service (TQS)

E.     Kesenjangan  dan Upaya-upaya Perbaikan dalam Layanan Lembaga Pendidikan
Kesenjangan yang terjadi pada lembaga pendidikan, yang dapat membuat lembaga pendidikan tidak mampu memberikan layanan yang bermutu kepada para pelanggannya. Ada 5 kesenjangan yang dapat membuat lembaga pendidikan tidak mampu memberikan layanan yang bermutu kepada pelanggannya.
1)      Kesenjangan 1: Kesenjangan antara harapan pelanggan dan persepsi manajemen lembaga pendidikan. Kesenjangan tersebut terbentuk akibat pihak manajemen lembaga pendidikan salah memahami apa yang menjadi harapan pelanggan lembaga pendidikan.
2)      Kesenjangan 2: Kesenjangan antara persepsi pihak manajemen lembaga pendidikan atas harapan pelanggan dan spesifikasi kualitas layanan. Kesenjangan tersebut terjadi akibat kesalahan dalam menerjemahkan persepsi pihak ke dalam bentuk tolak ukur kualitas layanan.
3)      Kesenjangan 3: Kesenjangan antara spesifikasi kualitas layanan dan pemberian layanan kepada pelanggan. Kesenjangan tersebut lebih di akibatkan oleh ketidakmampuan sumber daya manusia lembaga pendidikan untuk memenuhi standar mutu layanan yang ditetapkan.
4)      Kesenjangan 4: Kesenjangan antara pemberian layanan kepada pelanggan dan komunikasi eksternal lembaga pendidikan. Kesenjangan ini tercipta karena lembaga pendidikan tidak mampu memenuhi janjinya yang dikomunikasikan secara eksternal melalui berbagai bentuk promosi.
5)      Kesenjangan 5: Kesenjangan antara harapan pelanggan dan kenyataan layanan yang diterima. Kesenjangan tersebut  sebagai akibat tidak terpenuhinya harapan para pelanggan.
Menurut Zeithhaml ada beberapa cara untuk menghilangkan kesenjangan tersebut antara lain:
1)      Menghilangkan kesenjangan 1: memberikan kesempatan kepada para pelanggan untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka kepada lembaga pendidikan, mencari tahu keinginan dan harapan para pelanggan lembaga pendidikan sejenis, melakukan penelitian yang mendalam tentang pelanggan, membentuk panel pelanggan, melakukan studi komperhensif tentang harapan pelanggan, memperbaiki kualitas komunikasi antarsumber daya manusia dalam lembaga pendidikan, serta mengurangi birokrasi lembaga pendidikan.
2)      Menghilangkan kesenjangan 2: memperbaiki kualitas kepemimpinan lembaga pendidikan, mempertinggi komitmen sumber daya manusia terhadap mutu layanan, mendorong sumber daya manusia lebih inovatif dan responsive terhadap ide-ide baru, serta standarisasi pekerjaan yang ingin dicapai secara efektif.
3)      Menghilangkan kesenjangan 3: memperjelas uraian pekerjaan, meningkatkan kesesuain antara sumber daya manusia, teknologi dan pekerjaan, megukur kinerja dan balas jasa sesuai dengan kinerja, membangun kerja sama antara sumber daya manusia, serta memperlakukan pelanggan seperti bagian dari keluarga besar lembaga pendidikan.
4)      Menghilangkan kesenjangan 4: memperlancar arus komunikasi antara unit dalam organisasi lembaga pendidikan, memberikan pelayanan yang konsisten, memberikan perhatian yang lebih besar pada aspek vital mutu layanan, menjada agar pesan yang disampaikan secara eksternal tidak membentuk harapan para pelanggan yang melebihi kemampuan lembaga pendidikan serta mendorong para pelanggan untuk menjadi pelanggan yang lebih baik dan loyal.[16]

F.      Strategi Peningkatan Mutu Layanan Pendidikan.
1. Fokus pada Pengguna Jasa Pendidikan (Pelanggan)
Kepuasan pengguna jasa pendidikan merupakan factor yang sangat penting dalam TQM. Oleh sebab itu, identifikasi pengguna jasa pendidikan dan kebutuhan mereka merupakan aspek yang krusial. Adapun langkah pertama TQM adalah memandang siswa/mahasiswa sebagai pelanggan yang harus dilayani dengan baik.
2. Kepemimpinan
Kesadaran akan kualitas dalam lembaga pendidikan tergantung kepada faktor intangibles, terutama sikap manajemen tingkat atas (pimpinan lembaga pendidikan dasar menengah, kepala sekolah, dan pemimpin perguruan tinggi/rektorat) terhadap kualitas jasa pendidikan. Pencapaian tingkat kualitas bukan hasil penerapan jangka pendek untuk meningkatkan daya saing, melainkan melalui implementasi TQM yang mensyaratkan kepemimpinan yang kontinyu.[17] Dewan sekolah, pengawas dan administrator berperan dalam memfokuskan dan memberi arahan pada wilayah dan sekolah. Merekalah yang memiliki visi masa depan, dan  mereka jugalah yang berkemampuan mengajak para guru dan staf untuk mau menerima visi itu sebagai miliknya. Ini mengacu pada tanggung jawab bersam. Para guru dan staf memiliki komitmen untuk mewujudkan visi tersebut.[18] Pemimpin perlu memiliki karakteristik pribadi yang mencakup dorongan, motivasi untuk memimpin, kejujuran dan integritas, kepercayaan diri, inisiatif, krativitas/originalitas, adaptabilitas/fleksibikitas, kemampuan kognitif, serta pengetahuan dan charisma. Kualitas manajerial pimpinan harus dapat memberikan inspirasi pada semua jajaran manajemen agar mampu memperagakan kualitas kepemimpinan yang sama, yang diperlukan untuk mengembangkan budaya TQM. Oleh sebab itu, keterlibatan langsung pemimpin lembaga pendidikan sangat penting.
3. Perbaikan yang Berkesinambungan
Perbaikan yang berkesenimbangunan berkaitan dengan komitmen (continuous quality improvement atau CQI) dan proses (continuous process improvement). Komitmen terhadap kualitas dimulai dengan pernyatann dedikasi pada misi dan visi bersama, serta pemberdayaan semua partisipan untuk secara inkremental mewujudkan visi tersebut (Lewis dan Simth, 1994). Perbaikan yang berkesinambungan tergantung kepada dua unsur. Pertama, mempelajari proses, alat, dan ketrampilan yang tepat. Kedua, menerapkan ketrampilan baru pada small achieveable projects. Upaya perbaikan kualitas secara berkesinambungan dalam lembaga pendidikan harus menggunakan pendekatan sistem terbuka atas fungsi inti lembaga pendidikan, student learning. Ada tiga pendekatan yang digunakan untuk menjamin kualitas lembaga pendidikan, yaitu (1) Pendekatan akreditas, (2) Pendekatan outcome assessment, dan (3) Pendekatan sistem terbuka (Lewish & Smith, 1994).[19]
Penyempurnaan kualitas berkesinambungan dalam lembaga pendidikan
Perbaikan berkelanjutan merupakan hal penting untuk setiap organisasi mutu. Perbaikan tersebut hanya dapat dicapai bila setiap orang disekolah atau wilayah bekerja bersama-sama dan: * Menerapkan roda mutu pada setiap aspek kerja
* Memahami manfaat jangka panjang pendekatan biaya mutu
* Mendorong semua perbaikan baik besar maupun kecil
* Mefokuskan pada upaya pencegahan dan bukab penyelesaian masalah[20]
4. Manajemen SDM
Selain merupkan aset organisasi yang paling vital, sumber daya manusia merupakan pelanggan internal yang menetukan kualitas akhir sebuah jasa dan lembaganya. Oleh sebab itu, sukses tidaknya implementasi TQM sangat ditentukan oleh kesiapan, kesediaan, dan kompetensi sumber daya manusia dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan untuk merealisasikannya secara sungguh-sungguh.
5. Manajemen Berdasarkan Fakta
Pengambilan keputusan harus didasarkan pada fakta yang nyata tentang kualitas yang didapatkan dari berbagai sumber di seluruh jajaran organisasi. Jadi, tidak semata-mata atas dasar intuisi, praduga, atau organizational politics. Berbagai alat telah dirancang dan dikembangkan untuk mendukung pengumpulan dan analisi data, serta pengambilan keputusan berdasarkan fakta.[21]
III. KESIMPULAN
Total Quality Management (TQM) adalah suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis dalam menyelenggarakan suatu organisasi, yang mengutamakan kepentingan pelanggan. pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu. Sedang yang dimaksud dengan MMT Pendidikan tinggi (bisa pula sekolah) adalah cara mengelola lembaga pendidikan berdasarkan filosofi bahwa meningkatkan mutu harus diadakan dan dilakukan oleh semua unsur lembaga sejak dini secara terpadu berkesinambungan sehingga pendidikan sebagai jasa yang berupa proses pembudayaan sesuai dengan dan bahkan melebihi kebutuhan para pelanggan baik masa kini maupun yang akan datang.
Dalam MMT sekolah dipahami sebagai Unit Layanan Jasa,  yakni pelayanan pembelajaran. Sebagai unit layanan jasa, maka yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah ) adalah: 1) Pelanggan internal : guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi, 2) Pelanggan eksternal terdiri atas : pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orang tua, pemerintah dan masyarakat), pelanggan tertier (pemakai/penerima lulusan baik diperguruan tinggi maupun dunia usaha)
Peningkatan kualitas merupakan salah satu prasyarat agar kita dapat memasuki era globlalisasi yang penuh dengan persaingan. Untuk itu peningkatan kualitas layanan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan mutu pendidikan agar dapat survive dalam era global. Secara langsung peningkatan kinerja suatu lembaga pendidikan akan berpengaruh terhadap peningkatan kepuasan konsumen/pelanggan eksternal ataupun internal